oleh

Antara Strategi Bupati Dan Peran Kaum Muda Melenial

SriwijayaUpdate.Com, Sejumlah sosok muda mampu tampil sebagai pemenang dalam Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) 2020 di  Sumatera. Di wilayah Ogan Ilir misalnya, ada nama Panca Wijaya Akbar anak dari Wakil Gubernur Sumatera Selatan, Mawardi Yahya. Meski belum dilantik secara resmi, Panca Wijaya sudah menang telak atas lawannya, Ilyas Panji Alam-Endang PU Ishak. Siapa yang tak mengenal sosok Panca, bupati baru Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan ini, memiliki paras mempesona dan bentuk tubuh atletik.

Pilkada serentak 2020 lalu, adalah pilkada dengan warna penggunaan sosial media yang sangat masif. Baru isu, belum ada pembuktian secara material bisa melempar orang dari gelanggang pertarungan dan menghempaskan karir politik yang bertahun-tahun dirintis. Oleh karena itu disetiap calon kepala daerah berlomba-lomba mengkampanyekan suaranya lewat media  sosial dengan trik dan strategi yang beraneka.

Seperti yang dilakukan oleh Bupati Ogan Ilir terpilih, Panca Wijaya Akbar yang banyak melakukan aksi kampanye lewat media  sosial dengan membidik sejumlah kaum muda Ogan Ilir.  Bahkan sebagian besar tim sukses Panca berasal dari muda-mudi. Sejumlah kegiatan diadakan untuk memperkuat kampanyenya degan cara mengadakan berbagai lomba yang banyak melibatkan kaula muda. 

Yang unik dari strategi kampanyenya, mayoritas kaula muda mendeklarasikan mereka sebagai tim sukses Panca, mendirikan kafe yang dirancang khusus untuk menampung kaum muda lainnya agar nantinya memenangkan Panca di pilkada serentak. Selain menyediakan berbagai menu khas kafe milenial, para simpatisan yang tergabung dalam ikatan AMOI (Aliansi Millenial Kabupaten Ogan Ilir) turut mengundang artis dan pendangdut lokal demi menarik antusias masyarakat Ogan Ilir.

Kiranya benar apa yang dikatakan Kotler dan Roberto (1989) yang mengungkapkan bahwa kampanye ialah sebuah upaya yang diorganisir oleh satu kelompok (agen perubahan) yang ditunjukkan untuk memersuasi target sasaran agar bisa menerima, memodifikasi atau membuang ide, sikap dan perilaku tertentu. Kampanye politik adalah sebuah pristiwa yang bisa didramatisasi. Alhasil hasil akhir pilkada 2020 kemarin, pasangan Panca-Ardani menang mutlak dari lawannya yang merupakan petahana  Ogan Ilir.

Fenomena diatas memperlihatkan bahwa generasi milenial berpartispasi dalam proses penentuan pemimpin mereka untuk lima tahun kedepan. Memang strategi kampanye Panca yang banyak melibatkan anak muda patut diancungi jempol. Ia berhasil merangkul generasi milenial sebagai aset bangsa yang maha penting. Bukan saja dari sisi kuantitas yang sangat signifikan, tetapi potensi anak muda yang melek teknologi juga amat diperlukan demi memenangkan kompetisi yang sangat ketat ini.

Dari data CSIS menyebutkan bahwa generasi milenial 81, 7  % memiliki akun facebook, 70, 3% Watshap, 54, 7% Instagram dan terus meningkat (CSIS, 2017). Kepemilikan akun media sosial tersebut juga menjadi penanda bahwa peran kaum muda milenial sangat berpengaruh terhadap perubahan Indonesia, utama pilkada 2020.  Hal ini juga terlihat dari akun instagram pribadi Panca, yang banyak mengusung tema jiwa muda yang memiliki semangat pantang menyerah. Satu point plus Panca, bahwa selain merangkul kaula muda dalam strategi kampanyenya, ia juga memperlihatkan sosoknya yang enerjik dan penuh ambisius. Hal ini terbukti, sepanjang kampanyenya, Panca selalu mengadakan turnamen olahraga yang banyak diikuti anak-anak muda dengan sponsor hadiah yang menggiurkan. 

Intinya, momen politik Pilkada adalah ajang pertarungan bagaimana sigap dan cerdik mengatur strategi dalam berkampanye khusunya dalam melibatkan peran anak muda yang memiliki potensi kuat dan berpengaruh besar.

Penulis: Ery Erman (Penyuluh Agama Islam Kemenag Ogan Ilir)

News Feed